kuliner

Nasi Goreng: Makanan Sederhana dengan Sejarah yang Tidak Sederhana

mmasdab.com15 menit lalu
3 dibaca3 hari ini
Nasi Goreng: Makanan Sederhana dengan Sejarah yang Tidak Sederhanakuliner

Bagi Masdab atau Mbakdab, nasi goreng mungkin sesederhana memanfaatkan nasi kemarin sebelum berakhir di tempat sampah. Tinggal tambahkan bumbu, telur, atau apa saja yang tersedia, lalu wajan mengambil alih. Dari kebiasaan yang sangat praktis itu, berkembang beragam versi nasi goreng di berbagai daerah Indonesia.

Namun, makanan sesederhana ini ternyata punya sejarah yang tidak sederhana.

Ada Tradisi yang Lebih Tua dari Nasi Goreng Indonesia

Teknik mengolah nasi dengan cara digoreng sudah lama dikenal dalam tradisi kuliner Tiongkok. Salah satu yang terkenal adalah Yangzhou fried rice. Hubungan perdagangan dan perpindahan manusia kemudian menjadi salah satu jalur yang memungkinkan teknik memasak dan kebiasaan kuliner ikut menyebar ke berbagai wilayah Asia.

Tetapi mengatakan nasi goreng Indonesia sekadar “berasal dari Tiongkok” juga terlalu menyederhanakan ceritanya.

Ketika teknik tersebut bertemu dengan bahan, rempah, dan selera lokal Nusantara, hasilnya berkembang menjadi sesuatu yang berbeda.


Jejaknya Sudah Tercatat di Jawa

Salah satu bukti tertulis yang menarik terdapat dalam Serat Centhini, karya sastra Jawa abad ke-19. Di dalamnya terdapat penyebutan nasi goreng dalam konteks makanan yang disajikan dalam kenduri atau pesta.

Ini penting, tetapi perlu dibaca dengan hati-hati. Serat Centhini menunjukkan bahwa nasi goreng sudah dikenal dalam lingkungan budaya Jawa pada masa itu, namun bukan berarti bukti bahwa nasi goreng pertama kali diciptakan di Jawa.

Bumbu yang disebutkan juga menarik: bawang merah, jahe, dan kunyit. Kecap yang sekarang terasa hampir wajib bagi sebagian orang ternyata bukan bagian utama dari gambaran nasi goreng tersebut.

Sejarah kuliner memang sering membuat makanan yang kita anggap “resep keluarga” ternyata punya silsilah yang lebih panjang.


Dari Satu Makanan Menjadi 104 Jenis

Nasi goreng kemudian berkembang mengikuti daerah dan kebiasaan masyarakat. Ada nasi goreng Jawa, kampung, terasi, kambing, hingga berbagai versi dengan ayam dan makanan laut.

Pakar kuliner Nusantara dari UGM, Dr. Dwi Larasatie Nur Fibri, bahkan mencatat setidaknya 104 jenis nasi goreng di Indonesia. Sebagian dapat ditelusuri asalnya, sementara sebagian lainnya merupakan hasil perkembangan dengan sejarah yang tidak selalu jelas.

Dua orang bisa membuat nasi goreng dengan bahan hampir sama, tetapi masing-masing merasa resep keluarganya paling benar. Sejarah kuliner ternyata juga punya perang saudara—hanya saja senjatanya sendok dan kecap.


Ketika Nasi Goreng Mendunia

Popularitas nasi goreng tidak berhenti di Indonesia. Pada 2017, nasi goreng menempati peringkat kedua dalam World’s 50 Best Foods versi pembaca CNN Travel, berdasarkan jajak pendapat dengan sekitar 35.000 suara. Posisinya berada tepat di bawah rendang.

Tentu saja, itu bukan berarti nasi goreng terbukti secara ilmiah sebagai makanan terbaik kedua di planet ini. Selera manusia belum sampai pada tahap bisa dihitung seperti suhu udara.

Namun, peringkat tersebut menunjukkan satu hal: nasi goreng sudah menjadi bagian dari percakapan kuliner dunia.

Jadi, Asli Indonesia atau Bukan?

Mungkin pertanyaannya memang tidak harus sesederhana itu.

Sebuah makanan bisa membawa pengaruh dari tempat lain, lalu berubah ketika bertemu bahan, rempah, teknik, dan kebiasaan masyarakat setempat. Identitas kuliner tidak selalu lahir dari sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi juga dari cara sebuah masyarakat mengolah dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.

Nasi goreng tumbuh melalui perjalanan semacam itu. Ia datang membawa pengaruh, lalu beradaptasi, bercabang, dan akhirnya memiliki begitu banyak wajah di Indonesia.

Pada akhirnya, mungkin yang membuatnya terasa Indonesia bukan karena ia lahir tanpa pengaruh dari luar, melainkan karena di tangan orang Indonesia, ia menemukan rasa dan tempatnya sendiri.

Dan dari dapur ke dapur, dari nasi sisa kemarin sampai wajan panas malam ini, perjalanan panjang itu akhirnya bertemu pada satu hal sederhana: sepiring nasi goreng yang rasanya kita kenal sebagai rumah.

1

Diskusi (1)

M

Masfa29 menit lalu

Nasi padang kambing, favorit.